MANGATA Oleh: Cak Han's Anggai kedamaian ke mana kucari tapi tak kudapat Ujung ke ujung hala candramawa nyala api sebagai tanda Tak bisa tersentuh hanya dirasa. Hingga repui pohon kehidupan tak akan berakhir kara Teruslah berjalan rimpuh tak kenal usia Luas dan sunyi akan menjadi cerita abadi Tatih tak akan letih Peluh tak selamanya membuatmu payah Ia akan menemani cita tuhfahmu tak terhingga Bersih, suci, nan mulia. Damailah hati, Tak perlu meminta matahari untuk menerangi setiap pijakan ke mana diri membawa Bersihkan hati dari selirat kegundahan derita Tanpa dibelah dan dimasukkan pada bejana emas sangkala itu. Sekali lagi, pejamkan matamu Tibalah engkau di candra.
Postingan populer dari blog ini
MOHON MAAF Oleh: Cak Han's Sebenar-benarnya, Mohon maaf lahir batin Batin mati tanpa maaf Terus memohon untuk mendapatkan ampun Celengan riuh menghibur banyak hati Tanda kemenangan? Anak kecil berbondong-bondong, berlarian mengejar bunyi Adikku misalnya, beserta rombongannya Aku bisa apa, apa yang aku bisa? Kemenangan tanpa juara satu, dua, tiga d iraih oleh mereka yang merdeka Benarkah? Batin mati tanpa maaf Maaf lahir batin tanpa mohon Kepada mereka yang merdeka dan meraih kemenangan Juara berapa? Tanyaku Tersungkur, lupa bersyukur Terlalu nikmat bertengkar antara niat tanpa lawan Bertengkar? Aneh. Heh... Alih-alih buka mata Buka mulut untuk berbicara Bernafas saja enggan Benar saja, Ada yang terlatih, ada pula yang sedang tertatih-tatih Ada yang berani bertanggung jawab Sebagian bingung menjawab Ah sudahlah, Mohon maaf lahir batin Dirikan salat, raihlah kemenangan
AKSARA PUISI
KUTITIPAKAN NAMA Oleh: Hanifur Rabbani Kutitipkan nama Kemudian berjanji, bersumpah, mengagumi! Apakah kau merasa aku melihatmu? Apakah merasakan bagaimana aku melihat hatimu? Apakah merasakan aku di dalam dirimu? Bagaimana semua itu terjadi? Antariksa kalismu mengajarkan tanpa menjadi morfinis Ayat-ayatmu mengenalkan pada hal Jais Menemukan rahasiamu adalah pengalaman estetis yang perlu penyatuan diri, mengelaborasi kebenaran Tuhan tak pernah mungkir janji Janji tuhan sudah tajalli Bagaimana sumpahmu mengimani? Maka apa yang dikhawatirkan lagi? Bagaimana kau hidup sedang manusia terlahir dengan ketuahan Bersisa kesombongan yang berlebihan Berdalih semaunya tanpa koreksi dan introspeksi Bagaimana sikapmu mengagumi? Maka sesungguhnya, kau pun jarang bermadah pada-Nya Memilih untuk menyanjung-nyanjung si wanita jelita sebaya Mengharapkan cinta dan kasih sayangnya semata Kau pun terlalu menyibuk urusan dunia Men...
Komentar
Posting Komentar