BANGUN KESIANGAN
Terlihat air menguap membanjiri menenggelamkan seisinya
Menghiraukan panggilan paruh baya membawa sejuta malapetaka
Akankah kemakmuran bersanding dengan masa?
Akankah kejayaan bertanding atau saling tuding kanan kiri merebutnya?
Akhir zaman sudah saatnya disambut dengan tangan terbuka
Bangunkan sukma meninggalkan yang percuma
Melakoni yang wajib menggantungkannya di ubun yang bernyawa
Alam berduka, tiang-tiang roboh, duka umat sesal kesal tak diminta
Berjalan tidak tahu jalan
Menatap dengan mata tertutup bisa apa
Merangkul, mendekap menghangatkan luka dengan memanggil-manggil utusan mulia harap menengahi gejolak detik terik matahari di atas kepala
Oh, pada siapa meminta kepastian saat dilanda musibah luar biasa mengguncang dunia?
Ya hafidz,
Izinkan kami meminta penjagaan, keamanan setiap langkah ke mana kami berjalan memperjuangkan
Berikan kami ketegaran sampai jantung berhenti berdetak, nafas tak lagi berhembus melewati rongga dada dan lubang keambiguan
Jika diperkenankan,
Bukakanlah peti sejarah mengambil pusaka dan ikat kepala merah yang tertuliskan pujian pembangkit ruh memenggal kepala Jin dan sebangsanya
Setan-setan merasuki satu persatu untuk kehancuran
Sedang hamba belum saja waspada
Senang berleha-leha
Lalai melalaikan hidup kelalaian keledai menertawakan
Sungguh,
Tidak selamanya air tenang, mari belajar berenang
Sebelum ia datang dengan amarah raut muka pucat menakutkan

Komentar
Posting Komentar