DI MANA KITA AKAN
BERTEMU

Oleh: Cak Han's
Di mana ada awal, pasti akan ada akhir. Akhir sebuah perjalanan akan menjadi awal bagi perjalanan lainnya. Percayalah, setiap ada jumpa akan ada ucapan “sampai jumpa” isyarat perpisahan antar sesama. Entah itu akan diucapkan atau tidak yang pasti perpisahan itu “Ada!” Orang yang saling mencintai akan dikumpulkan bersama orang yang dicintai, lalu di mana akan dipertemukan? Wallahua'lam.
Hari ini, terlalu banyak orang mencari, mengejar dan berusaha menemukan orang yang benar-benar mencintai dirinya. Nahas, ketika dalam proses mencari pertemuan dengan sosok yang menjadi pilihan dan sesuai dengan kriterianya berakhir dengan kekecewaan dan berputus asa. Karena adanya ketidaksesuaian, ketidaksepemahaman hingga berakhir dengan perpisahan. Segala permasalahan akan mulai bermunculan disebabkan kegelisahan dalam menemukan orang yang didambakan. "Ia hanya pengganti, akan pergi, penghuni datang lagi." Kalimat yang barangkali menyadarkan bahwa kehidupan ini berjalan silih berganti dan tidak ada yang abadi. Layaknya kita sedang mengantri dan menunggu giliran takdir garis tuhan untuk diri tiba. Maka, siapa yang pantas untuk dicintai? Diri kita sendiri. Cintailah diri kita sendiri sebelum mencintai orang lain. Apalagi, kita mengemis untuk mendapatkan cinta dari orang lain yang belum tentu mencintai diri kita. Sadarlah! Bahwa ada yang lebih mencintai kita namun sayangnya kita tidak menyadari kecintaannya terhadap kita sendiri. ”Yang jauh sebenarnya dekat, yang dikejar sebenarnya diam di tempat, jangan tertipu di dunia agar bahagia di akhirat."
Dari Anas bin Malik, suatu ketika seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW. “ Kapan akan terjadi hari kiamat wahai Rasulullah? Nabi Muhammad SAW tidak menjawab pertanyaan tersebut melainkan menimpali dengan pertanyaan pula. “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” tanya Rasul. Sahabat tersebut menjawab “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan memperbanyak salat, puasa dan sedekah. Tetapi aku hanya mempersiapkan dua hal, yaitu; Cinta Allah dan Rasul-Nya. Setelah mendengar jawaban yang disampaikan, maka Nabi Muhammad SAW berkata, “Antaa ma'a man ahbabta." (Kamu akan bersama orang yang engkau cintai {HR. Bukhari no.6171 dan Muslim no.2639}).
Alangkah indahnya ketika mencintai diri kita sendiri. Dalam kesehariannya senantiasa bersyukur dan selalu melibatkan Allah SWT dalam segala aktivitasnya. Dan selalu berkeyakinan seseorang yang memang menjadi dambaan hatinya dan diharapkan kehadirannya akan datang menyempurnakan agamanya. ”Warajulaani tahabbaa Fillahijtama'aa alaihi watafarraqaa alaihi." (Dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena Allah dengan sebab cinta karena Allah {HR.Bukhari no.669 dan Muslim no.1031}).
Barangkali untuk memberikan jawaban atas pertanyaan di awal pragraf di atas adalah orang yang mencintai akan dikumpulkan bersama orang yang dicintai di “akhirat” kelak.
Ya, kita akan bertemu di suatu tempat dan merupakan akhir tujuan dari segala tujuan. Tidak ada kehidupan paling indah dalam bercinta selain meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Maka dari itu, mari cintai Allah SWT tanpa keraguan, cintai Rasulullah dengan penuh kerinduan. Semoga dipertemukan.
Uhibbukallahulladzi Ahbabtanii lahu.
![]() |
| Oleh: Cak Han's |
Di mana ada awal, pasti akan ada akhir. Akhir sebuah perjalanan akan menjadi awal bagi perjalanan lainnya. Percayalah, setiap ada jumpa akan ada ucapan “sampai jumpa” isyarat perpisahan antar sesama. Entah itu akan diucapkan atau tidak yang pasti perpisahan itu “Ada!” Orang yang saling mencintai akan dikumpulkan bersama orang yang dicintai, lalu di mana akan dipertemukan? Wallahua'lam.
Hari ini, terlalu banyak orang mencari, mengejar dan berusaha menemukan orang yang benar-benar mencintai dirinya. Nahas, ketika dalam proses mencari pertemuan dengan sosok yang menjadi pilihan dan sesuai dengan kriterianya berakhir dengan kekecewaan dan berputus asa. Karena adanya ketidaksesuaian, ketidaksepemahaman hingga berakhir dengan perpisahan. Segala permasalahan akan mulai bermunculan disebabkan kegelisahan dalam menemukan orang yang didambakan. "Ia hanya pengganti, akan pergi, penghuni datang lagi." Kalimat yang barangkali menyadarkan bahwa kehidupan ini berjalan silih berganti dan tidak ada yang abadi. Layaknya kita sedang mengantri dan menunggu giliran takdir garis tuhan untuk diri tiba. Maka, siapa yang pantas untuk dicintai? Diri kita sendiri. Cintailah diri kita sendiri sebelum mencintai orang lain. Apalagi, kita mengemis untuk mendapatkan cinta dari orang lain yang belum tentu mencintai diri kita. Sadarlah! Bahwa ada yang lebih mencintai kita namun sayangnya kita tidak menyadari kecintaannya terhadap kita sendiri. ”Yang jauh sebenarnya dekat, yang dikejar sebenarnya diam di tempat, jangan tertipu di dunia agar bahagia di akhirat."
Dari Anas bin Malik, suatu ketika seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW. “ Kapan akan terjadi hari kiamat wahai Rasulullah? Nabi Muhammad SAW tidak menjawab pertanyaan tersebut melainkan menimpali dengan pertanyaan pula. “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” tanya Rasul. Sahabat tersebut menjawab “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan memperbanyak salat, puasa dan sedekah. Tetapi aku hanya mempersiapkan dua hal, yaitu; Cinta Allah dan Rasul-Nya. Setelah mendengar jawaban yang disampaikan, maka Nabi Muhammad SAW berkata, “Antaa ma'a man ahbabta." (Kamu akan bersama orang yang engkau cintai {HR. Bukhari no.6171 dan Muslim no.2639}).
Alangkah indahnya ketika mencintai diri kita sendiri. Dalam kesehariannya senantiasa bersyukur dan selalu melibatkan Allah SWT dalam segala aktivitasnya. Dan selalu berkeyakinan seseorang yang memang menjadi dambaan hatinya dan diharapkan kehadirannya akan datang menyempurnakan agamanya. ”Warajulaani tahabbaa Fillahijtama'aa alaihi watafarraqaa alaihi." (Dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena Allah dengan sebab cinta karena Allah {HR.Bukhari no.669 dan Muslim no.1031}).
Barangkali untuk memberikan jawaban atas pertanyaan di awal pragraf di atas adalah orang yang mencintai akan dikumpulkan bersama orang yang dicintai di “akhirat” kelak.
Ya, kita akan bertemu di suatu tempat dan merupakan akhir tujuan dari segala tujuan. Tidak ada kehidupan paling indah dalam bercinta selain meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Maka dari itu, mari cintai Allah SWT tanpa keraguan, cintai Rasulullah dengan penuh kerinduan. Semoga dipertemukan.
Uhibbukallahulladzi Ahbabtanii lahu.
Komentar
Posting Komentar